Hai, kali ini saya menulis sebuah novel. Ini merupakan novel pertama yang saya buat. Saya harap kalian menyukai karya saya.
INEFFABLE
Bab 1
Pelajaran berharga dari embun pagi hari, bahwa yang Indah itu bertahan hanya sebentar.
Bunyi bel membuat seluruh siswa-siswi SMA Mahardika meninggalkan kelasnya dan berlari menuju lapangan upacara.
"Ana" panggil seseorang dari kejauhan lalu berlari mendekatinya
"Tumben baru datang jam segini?" ucapnya
"Kesiangan gue" ucap Ana sambil mengatur nafasnya
Ya, siswi yang hampir terlambat itu bernama Daviana Sava Zahira atau yang lebih sering disebut Ana. Dan sekarang dia bersama dengan sahabat dekatnya yaitu Adelia. Mereka sudah bersahabat sejak kecil.
"Lo belum kelapangan del? " tanya Ana
"Gue nungguin lo dari tadi" jawab Adelia
"Ya udah ayo ke lapang" ajak Ana.
Panasnya matahari membuat seluruh siswa SMA Mahardika yang mengikuti upacara mengeluarkan cairan khas dari tubuhnya. Semua murid baris sesuai kelasnya masing-masing terkecuali murid yang dihukum karena tidak memakai atribut lengkap, mereka harus memisahkan diri dari barisannya dan membuat barisan baru di depan lapangan.
"Na" ucap Adel sambil menyenggol lengan Ana
Ana pun langsung menengok ke arah Adel
"Hhmmm" Ana berdehem
"Liat tuh siswa yang didepan, udah tau hari ini upacara, masih aja gak pake atribut lengkap, bandel emang ya" ucap Adel terlihat kesal.
Ana hanya terdiam sambil memperhatikan siswa yang berada didepan, matanya berhenti tepat pada salah satu siswa yang menarik perhatiannya. Ana terus memperhatikan perilaku siswa tersebut. Dan entah mengapa Ana tidak bisa berhenti untuk melirik siswa itu.
"Na, lo liatin apasih?" tanya Adel yang merasa bahwa Ana sedang memperhatikan sesuatu
Ana tidak menyahut, dia tetap melihat ke arah siswa tersebut
"Na!" ucap Adel dengan nada sedikit lebih tinggi
"Iya?" jawab Ana kaget
"Lo liatin apa sih? Serius banget" ucap Adel penasaran
"Gak liatin apa-apa kok" sahut Ana grogi.
Upacara selesai, semua murid masuk ke kelasnya masing-masing, begitu juga dengan Ana dan Adelia. Sesampainya dikelas Ana terus memikirkan siswa tadi. Pikirannya seperti dipenuhi dengan bayang-bayang wajah siswa itu. Bahkan Adelia dibuat bingung dengan sikap Ana yang berbeda dari biasanya, dia terlihat lebih diam dan sering melamun.
"Lo kenapa sih? Sakit?" tanya Adel
"Engga kok" jawab Ana berhenti dari lamunannya
"Beneran? Tapi kok gue liat-liat lo diem aja dari tadi"
"Gapapa kok"
"Kalau gitu anter gue ke toilet yu, gue kebelet nih" ucap Adel
"Masih pagi udah beser aja" sahut Ana.
Jarak toilet dan kantin tidak terlalu jauh. Sehingga Ana bisa bisa pergi ke kantin sebentar sambil menunggu Adel yang berada di toilet. Ana sudah paham betul bahwa Adel pasti akan sangat lama berada di toilet. Saat ana membeli minum, dia bertemu dengan siswa yang tadi pagi dihukum. Gaya siswa itu sedikit bandel, dengan baju yang dikeluarkan, tidak memakai dasi, dan rambut berponi yang membuat siswa itu terkesan cool.
"Dari mana aja lo?" ucap Adel sembari melihat Ana berjalan menuju toilet untuk menghampirinya
"Habis dari kantin, lagian lo kan kalo ke toilet pasti lama, gue jadi bete" ucap Ana sedikit bergurau
"Ya ampun na, gue kan harus benerin make up dulu jadinya lama" sahut adel
**
Pagi ini Ibu Fida seorang guru matematika, sedang menerangkan sebuah soal pada muridnya yaitu kelas 11 Ipa 1, yang tidak lain adalah kelas Ana. Matematika merupakan salah satu pelajaran yang ana sukai. Bagaimana tidak, ana itu sangat jago dalam hal menghitung.
"Daviana" ucap bu Fida kepada Ana
"Iya bu" jawab ana sopan
"Tolong ambilkan soal-soal matematika ibu dikantor ya"
"Baik bu"
Ana pun langsung pergi menuju kantor. Saat akan kembali ke kelas, ditengah perjalanan seseorang menabraknya, sehingga soal-soal yang ana bawa jatuh berserakan dilantai. Dengan sigap ana langsung mengambil kembali soal-soal tersebut, tanpa melihat ke arah siswa yang menabraknya.
"Kalau jalan liat-liat dong" ucap Ana kesal, masih membereskan soal-soal itu.
Ana langsung berdiri dan menghadap ke arah siswa tersebut. Deg, hatinya tiba-tiba berdekup kencang, dan mulut ana seketika tidak bisa digerakan saat melihat siswa dihadapannya adalah siswa yang selalu dia perhatikan hari ini. Siswa tersebut langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Ana. Dan Ana masih mematung ditempat sambil melihat kepergian siswa tersebut.
**
"Ke kantin yuk na" ajak Adel
Adel melihat ke arah Ana yang diam saja sedari tadi
"Na!" suara cetar Adel memenuhi seisi kelasnya, untung saja dikelas hanya tinggal mereka berdua
"Apaan sih" ucap Ana menghentikan lamunannya dan menaruh kedua tangannya pada telinga karena merasa telinga akan pecah karena teriakan Adel
"Ngelamunin apa sih lo? " tanya Adel
Ana pun menceritakan kejadian tadi kepada Adel. Bahkan tidak ada satupun yang terlewat.
"Lo suka sama dia? " tanya Adel lagi
"Kok lo langsung nyimpulin gitu sih, gue kan cuma penasaran aja sama dia, dia tuh kaya gak asing dimata gue" jawab Ana ragu
"Penasaran apa penasaran nih" ejek Adel sambil tertawa.
Dua mangkuk somay dan dua jus buah berada dihadapan mereka sekarang. Itu adalah menu yang biasa mereka pesan, mungkin karena harganya yang terjangkau dan pastinya sangat enak. Dari awal masuk sampai saat ini tak ada yang bisa menggantikan kelezatan somay dimata mereka.
"Na pulang sekolah anter gue ke toko buku ya" ucap Adel
"Stok buku lo udah habis lagi?" tanya Ana
"Ehehe iya nih, kemarin baru habis bacanya" ucap Adel sedikit tersenyum
"Oke deh" jawab Ana
Kantin yang tadinya tenang menjadi ramai. Siapa lagi yang datang kalau bukan most wanted sekolah. Mereka semua adalah cowo-cowo yang terkenal karena ketampanannya dan selalu didambakan oleh semua siswi di sekolah ini.
"Muncul deh cowo-cowo so keren itu" ucap Adel bete dengan kedatangan most wanted
Adel memang tidak menyukai mereka, karena menurutnya mereka hanya gaya-gayaan dan bersikap so keren. Ana yang biasanya tidak memperdulikan kedatangan para most wanted, kali ini berbeda. Dia terus memperhatikan ke arah para most wanted itu. Apa lagi yang membuatnya seperti itu kalau bukan karena seorang siswa yang dia kagumi.
"Balik yu na, gue kenyang nih" ajak Adel yang sebenarnya tidak nyaman karena kedatangan para most wanted itu
"Tunggu deh, gue masih pengen disini" ucap Ana
"Mau ngapain? Ayo lah ke kelas" ajak Adel dengan muka betenya
"Iya bentar, 15 menit aja" tawar Ana.
Ana terus memperhatikan siswa itu. Matanya tidak berkedip sama sekali, bahkan adel yang melihatnya pun dibuat bosan. Ana benar-benar tidak mengalihkan pandangannya. Ana merasa bahwa siswa itu tidak asing lagi dimatanya.
"Liatin aja terus sampe gue jadi presiden" ejek Adel kepada Ana
"Apaan sih lo" ucap Ana malu
"Kok gue baru liat dia ya, apa dianya yang gak pernah nongol" ucap Adel sambil melihat kepada siswa yang Ana kagumi
"Masa? Mungkin mata lo kali yang salah" ejek Ana sambil tertawa.
**
"Gue saranin lo baca novel ini" ucap Adel yang memberikan sebuah novel kepada Ana
"Gak mau, gue gak suka baca novel, lagian novel percintaan kaya gitu kan cuma imajinasi, emang ada ya yang beneran kaya gitu? Gak ada kan" sahut Ana sambil menaruh kembali buku novel tersebut ke tempatnya
"Ya gapapa dong, biar sekali-kali lo baca novel, jangan baca buku pelajaran terus, otak lo juga butuh liburan"
"Tiap malem otak gue dicuci biar seger jadi gak perlu liburan" ejek Ana sambil tertawa
"Terserah lo deh na" sahut Adel tertawa
Bersambung........
Gimana sama ceritanya suka gak? Maaf jika masih terdapat banyak kesalahan, karena saya juga masih dalam tahap pembelajaran.
Tunggu kelanjutan ceritanya ya teman-teman.
Kasih kritik dan saran kalian ya.
Terima kasih.
